Minggu, 01 Desember 2013

10 TOP Pemain Dunia Yang Tidak Bisa Ikut Piala Dunia

0 komentar

Tentu menjadi harapan semua pemain di dunia bisa unjuk kebolehan di Piala Dunia. Namun siapa sangka jika ada beberapa pemain hebat justru gagal tampil di event empat tahunan itu.

Ya, Cristiano Ronaldo bersama Portugal, Lionel Messi bersama Argentina, Thiery Henry bersama Prancis mungkin terancam tak unjuk kebolehan di Afrika Selatan. Namun, winger Real Madrid ini lebih bernasib baik dibanding nama-nama besar macam dua pendahulunya, George Best dan Alfredo di Stefano.

Jangan tanya kiprah Best di Manchester United atau Alfredo di Stefano bersama Real Madrid. Keduanya telah menjadi legenda.

Tapi, itu tidak terjadi di timnas. Merek masuk dalam daftar pemain top yang tak merasakan Piala Dunia sepanjang karirnya.

10. Paulo Di Canio
Di balik sikap temperamennya, Paulo Di Canio tetap diakui sebagai pemain dengan skill di atas rata-rata. Penyerang asal Italia ini selalu tampil impresif bersama West Ham United. Sayangnya, ia tak pernah dipanggil masuk timnas
Azzurri. Ditengarai sifat temperamennya itu yang membuat pelatih-pelatih Italia enggan memanggilnya. Dino Zoff, mantan pelatih Azzurri, pernah berkata, "karena saya telah cukup punya masalah, saya tidak ingin menambahnya lagi.

Spoiler for Paulo Di Canio:
terselungkup.blogspot.com


9. Jari Litmanen
The Flying Finn telah memenangkan beberapa gelar Liga Belanda bersama Ajax Amsterdam termasuk Liga Champions pada 1995 silam. Tak hanya itu, Litmanen juga menduduki peringkat 3 dalam voting Pemain Terbaik Eropa 1995. Karir gemilangnya terus berlanjut bersama Liverpool. Piala FA, Worthington Cup dan gelar UEFA Cup pernah dirasakannya bersama The Reds. Tapi di timnas, ikan besar di klub itu terlihat seperti ikan kecil. Alhasil bersama Finlandia, Litmanen selalu menemui kegagalan melaju ke Piala Dunia.
Spoiler for Jari Litmanen:
terselungkup.blogspot.com


8. Matt Le Tissier
Tiga golnya saat timnas Inggris mengalahkan Rusia rupanya tak mampu membuat terkesan Glen Hoddle. Pelatih timnas Inggris ini tetap meninggalkan Le Tissier ke Piala Dunia 1998 Prancis. Namun, Hoddle pantas menyesal setelah Inggris tersingkir dalam drama adu penalti kontra Argentina. Pasalnya, Le Tiss dikenal sebagai eksekutor ulung yang dimiliki Inggris.
Spoiler for Matt Le Tissier:
terselungkup.blogspot.com

>
7. Bernd Schuster

Berbagai trofi juga telah dipersembahkan Bernd Schuster saat masih bermain untuk Barcelona dan Real Madrid. Termasuk saat merengkuh juara Euro 1980 bersama Jerman Barat. Tapi, perselisihannya dengan Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) saat itu membuatnya ditinggalkan di Piala Dunia 1982. Schuster mundur dari timnas saat usianya 24 tahun.
Spoiler for Bernd Schuster:
terselungkup.blogspot.com


6. Ian Rush

Dialah salah satu putra terbaik Wales. Mesin gol Anfield ini dianggap menjadi salah satu striker menakutkan bersama Liverpool. Namun, sinar terang Rush akan meredup di timnas. Ian Rush seakan berjuang sendiri di timnas.
Alhasil, Ian Rush tak pernah mencicipi Piala Dunia karena Wales selalu gagal lolos.
Spoiler for Ian Rush:
terselungkup.blogspot.com


5. Eric Cantona
Siapa tak kenal Eric Cantona. Penyerang yang dikenal dengan tendangan kungfu ini menjadi nyawa permainan Manchester United saat itu. Sempat dipanggil ke timnas pada 1987, namun pelatih timnas Prancis saat itu Henri
Michel berselisih dengannya. Michel sendiri akhirnya dipecat setelah Prancis gagal meraih tiket ke Piala Dunia 1990 Italia dan Amerika Serikat 1994. Sedangkan di Piala Dunia 1998, Cantona terganjal skorsing karena tendangan
kungfu saat memperkuat MU.
Spoiler for Eric Cantona:
terselungkup.blogspot.com


4. George Weah
Saat membaca CV George Weah, tentu sederet prestasi dapat menunjukkan kehebatannya. Pemain Terbaik Eropa, tiga kali Pemain Terbaik Afrika, Pemain Terbaik Afrika Abad ini dan berbagai trofi bersama Paris Saint-Germain dan AC
Milan. Weah juga tercatat sebagai top skorer Liga Champions pada 1994/1995. Namun di timnas Liberia, Weah seakan berjuang sendiri. Alhasil, Weah gagal beraksi di Piala Dunia 2002.
Spoiler for George Weah:
terselungkup.blogspot.com


3. Ryan Giggs
Senasib dengan pendahulunya Ian Rush, Giggs bak matahari tertutup awan. Penampilan fantastisnya di Manchester United tak mampu mendongkrak timnas Wales yang saat itu memang bukan kekuatan sepakbola. Sempat ditawari timnas Inggris, Giggs lebih memilih tak merasakan Piala Dunia dibanding harus mengkhianti tanah leluhur.
Spoiler for Ryan Giggs:
terselungkup.blogspot.com



2. Alfredo di Stefano

Tiga negara memperebutkan sosoknya. Ya, Alfredo di Stefano memang tercatat sebagai satu-satunya pemain yang memperkuat tiga negara yakni Argentina, Kolumbia atau Spanyol. Bersama Argentina, ia gagal tampil di Piala Dunia 1950 dan 1954. Sedangkan di PD 1958, timnas Spanyol gagal melaju. Di Piala Dunia Chile 1962, Alfredo di Stefano mengalami cedera.
Spoiler for Alfredo di Stefano:
terselungkup.blogspot.com



1. George Best

Dunia mengakui jika Pele, Diego Maradona dan George Best menjadi tiga pemain terbaik yang pernah ada. Namun, nasib menyedihkan harus diterima George Best. Di saat nama besar Pele dan Maradona telah dikultuskan dengan gelar Piala Dunia, tidak dengan Best. Mantan gelandang serang Irlandia Utara ini tak bisa mengangkat negaranya di pentas dunia. Irlandia tak mampu lolos ke Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Spoiler for George Best:
terselungkup.blogspot.com


Sumber : kaskus.us
Read more ►

Kamis, 28 November 2013

5 Pemain Muda Indonesia Di Liga Eropa Dan Amerika

0 komentar
Terpilihnya Ketua Umum PSSI yang baru Djohar Arifin Husin untuk masa jabatan 2011-2015 membuka harapan baru persepakbolaan Indonesia. Berbagai macam program akan digulirkan agar Merah-Putih mampu bersaing di level Internasional. Salah satunya mengirimkan duta-duta muda berlatih di luar negeri. Sebelum Djohar terpilih, Indonesia telah memiliki pemain masa depan yang harus diperhatikan agar bisa terus dijaga sehingga bisa mewujudkan mimpi Indonesia di level Internasional. Berikut 5 pemain masa depan Indonesia yang kini berlaga di kompetisi luar negeri dari i

1. Syamsir Alam (Penarol/Uruguay)
Striker Sociedad Anonima Deportiva (SAD) Indonesia yang berlaga di kompetisi Uruguay U-17 dan U-19 ini menjadi talenta pertama yang menarik perhatian klub Penarol untuk meminangnya. Kini pemain kelahiran Balingka, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, 6 Juli 1992 menjadi skuad inti Penarol U-19. Grafik positif yang diperlihatkannya bersama Penarol meninggalkan sebuah harapan besar akan datangnya pengganti, Kurniawan Dwi Julianto dan Bambang Pamungkas di tim Merah-Putih.

2. M. Zainal Haq (Penarol/Uruguay)
Sama seperti Syamsir, M. Zainal Haq menyanggupi bergabung bersama Penarol yang terang-terangan membutuhkan jasanya di lapangan. Pemaon kelahiran, Sidoarjo, 5 April 1992 ini piawai bermain di sektor pertahanan. Namun kelebihan lainnya bisa beroperasi di pisisi gelandang. Termasuk pemain serbabisa inilah yang membuat Penarol tertarik membawa Zainal bergabung. Zainal juga memperlihatkan konsistensinya bersama timnas Indonesia sejak bergabung di Timnas U-16, Timnas U-17, Timnas U-19 dan telah menyumbang 5 gol untuk tim Merah-putih.

3. Yericho Christiantoko (CS Vise/Belgia)
Bergabung bersama tim SAD Indonesia berguru di Uruguay membuatnya semakin matang. Tipikal permainan jebolan akademi Arema Malang ini dianggap seperti pendahulunya, Aji Santoso. Dengan usianya yang masih muda, kelahiran Malang 14 Januari 1992 ini memperlihatkan kematangannya sepulangnya dari Uruguay. Dengan pengalamannya itu, Yericho diminati klub Belgia, Cercle Sportif Vise untuk bergala di Divisi II. Peran keluarga Bakrie sebagai pemilik saham terbesar klub tersebut sangat besar dalam mendatangkan Yericho.

4. Alfin Ismail Tuasalamony (CS Vise/Belgia)
Generasi baru pesepakbola asal Maluku yang memperlihatkan eksistensinya bersama timnas Indonesia. Membela Timnas U-16, U-17, U-19 (SAD) membuat Alfian dipercaya akan menjadi salah satu tulang punggung timnas Indonesia. Untuk semakin mematangkan potensi yang dimilikinya pemain kelahiran Maluku, 13 November 1992, diboyong CS Vise untuk merumput di Liga Belgia dengan durasi 1 musim kompetisi. Teknik dribling yang dimiliki Alfian sangat menonjol dibandingkan pemain lainnya.

5. Yandi Sofyan Munawar (CS Vise/Belgia)
Koleksi 20 gol bersama SAD Indonesia saat berlaga di Kompetisi U-19 Uruguay menjadi referensi penting bagi CS Vise untuk menggunakan jasanya. Selain itu pemain kelahiran, Garut 25 Mei 1992 ini memiliki skill mumpuni untuk menjadi seorang penyerang. Adik kandung dari mantan striker timnas Zaenal Arif ini diprediksi bisa meneruskan kejayaan sang kakak saat bersama timnas Indonesia. Akurasi tendangan dan bisa menempati penyerang sayap menjadi kelebihan yang bisa dimanfaatkan CS Vise



Sumber. http://faktabukanopini.blogspot.com/2011/08/5-pemain-muda-indonesia-yang-bermain-di.htm
Read more ►
 

Copyright © mari berkarya Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger